MUDIK??? Senangnya....
+- 3 jam sebelum aku kepala 2
Barusan aku dari bu-bar (buka bareng) ama temen-temen tingkat satu... seneng banget bisa ketemu lagi ama temen-temen kelas B-01... Trus tadi ada yang udah ngucapin....(apa ya? tebak sendiri aja!) cz dia takut nggak sempet ketemu aku lagi besok karena dia anak FPIK sedangkan aku anak FEMA, so kampus kita jauhan... tapi aku tetep seneng kok, karena dia masih inget.... Kurang lebih 3 jam lagi aku udah kepala dua... sedih banget sich udah tua.... Aku sekarang lagi flashback apa-apa aja yang udah aku lakukan selama 19 tahun ini dan apa yang ingin dan akan aku lakukan menginjak kepala dua... tapi satu yang pasti, aku cuma ingin aku berguna untuk orang laen... ada kebahagiaan tersendiri yang kurasakan saat aku melihat orang lain merasa bahagia atas apa yang telah aku lakukan untuk dia... ada yang bilang kalo berbagilah kebahagiaan maka kebahagiaan itu akan bertambah dan berbagilah kesedihan maka kesedihan itu akan berkurang...(apaan sich? nggak ada hubungannya ya? whatever lah, yang pasti aku suka banget ama kalimat itu dan aku sering merasakan efek dari kalimat itu) Besok aku ada quiz medstat, dan aku masih harus ngedit bahan untuk kliping PIK, dan pastinya malem ini aku nggak bakalan bisa tidur dengan nyenyak karena pasti banyak yang bakalan ngubungin aku untuk ngucapin selamat (gimana sich, namanya juga vina gitu lho ya... pastinya banyak yang.... penting nggak sich???!!!). Intinya sich aku cuma mau ngasih tau kalo malem ini bakalan jadi malem yang 'never ending story' buat aku (fffiiuuu...) Sebenernya apa sich arti hari kelahiran kita? Kalo yang kurasakan saat aku ulang tahun adalah... aku nggak mau munafik, sama seperti orang lain, yang pasti aku seneng. Tapi, ada setitik kesedihan dalam diriku karena sisa waktuku untuk hidup semakin berkurang... Padahal masih banyak yang belom aku lakukan untuk orang lain, terutama keluargaku.... Sebenernya nggak penting siy besok tu hari kelahiranku atau bukan karena untuk menjadi sesuatu yang baru, menjadi seseorang yang lebih dewasa (sebenarnya batasan dewasa tu seperti apa sich? karena sampai saat ini aku masih belum mendapatkan konsep dan batasan yang jelas mengenai kedewasaan), nggak harus berubah hanya pada hari kelahiran aja... Kapanpun itu, kalo kita ingin dan mau diri kita menjadi lebih baik dari sebelumnya, kita harus mengubah kebiasaan-kebiasaan kita yang "nggak seharusnya" kita lakukan. Aku menganggap setiap hari yang aku lalui adalah hari yang baru, hari kelahiranku (pemikiran) ... Sudah banyak aku melihat senyuman matahari pagi (ribuan), sudah banyak aku melihat malam (bulan/bintang), tapi aku yakin kalo bulan N bintang malem ini lebih terang...., N besok matahari lebih manis senyumnya... (cuma aku yang bisa merasakan itu..., cuma aku, just me). Aku harus jadi lebih baik dari taon2 sebelumnya...., terutama bagi keluargaku... Untuk mama, untuk papa, untuk kakak-kakakku.... because they are everything that I need, nothing else.... Tanpa mama dan papa aku nggak mungkin pernah hadir di dunia ini... Tanpa keluargaku, aku nggak akan mampu bertahan sampai saat ini.... Keluargaku adalah yang terpenting dalam hidupku, terutama kedua orang tuaku.... Mama, papa, maafin vina kalo selama ini vina bisanya cuma nyusahin terus.... tapi vina janji vina pasti bisa bikin mama dan papa bangga punya vina dalam hidup kalian.... Yang pasti, menginjak kepala dua ini, aku pengen aku jauh, jauh, dan jauh lebih baik dan lebih dewasa dari sebelumnya dan yang pasti juga aku ingin menjadi seseorang yang bisa berguna bagi orang lain terutama keluarga, karena tanpa keluargaku, aku.......... Mama, Papa, Mbak Ninda, Mbak Yuli..... I LOVE U ALL.... Makasih atas semua kasih, cinta, dan sayang yang tulus dan tanpa batas yang selalu tercurahkan untukku.....
Be Your Self...
Be Your Self... Banyak orang yang ngomong kalimat itu… Tapi apa siy arti kalimat itu sebenarnya??? Kalo kita translate-in ke bahasa ibu kita artinya “Jadilah Dirimu Sendiri”… Memang kita harus jadi diri sendiri supaya kita nggak tersiksa sendiri. Maksudnya??? Iya, jadi kalo kita berusaha untuk selalu membuat orang lain respek dan suka ama kita, kita sendiri yang jadi capek karena kita harus berubah dari cara bicara dsb yang ada pada diri kita untuk ngebuat orang lain suka ama kita… Nah, kalo kaya gitu ceritanya kan yang capek kita sendiri coz kita pasti punya banyak temen otomatis kalo kita pengen disukai oleh semua temen kita itu, kita akan selalu berubah-ubah seperti yang temen-temen kita sukai. Selain kita jadi capek, kita juga ga’ akan pernah nemuin jati diri kita sendiri kalo kaya gitu ceritanya, selain itu kita kesannya jadi jaim banget!!! Jaim siy perlu tapi jangan berlebihan… Jaim itu hanya diperlukan saat kita baru kenal ama orang karena nggak mungkin kan kita akan ngeluarin sifat-sifat atau karakter-karakter ‘aneh’ kita pada orang yang baru kita kenal… Tar yang ada orang itu malah nilai kita negative… Kalo kaya gitu ceritanya kapan kita bisa masuk ke lingkungan baru???
Memang nggak semua orang mentingin kesan pertama, tapi setidaknya kita harus memberi kesan yang baik dan mendalam saat pertemuan pertama dengan orang yang baru kita kenal supaya dia respek pada kita, kalo setelahnya kita akan jadi diri kita sendiri yang “aneh-aneh”, aku yakin orang lain bakalan lebih bisa nerima kita apa adanya diri kita.Kita tidak bisa sembarangan “Be Your Self” di setiap tempat apalagi di lingkungan baru karena nggak semua orang bisa narima “kebiasaan-kebiasaan” kita yang kita anggap biasa tapi untuk orang lain itu nggak biasa… Jadi kita harus pinter-pinter memilah-milih tempat dimana kita bisa “Be Your Self” or ga’. Pada intinya kita harus bisa nempatin diri lah… Karena kita nggak bisa nuntut lingkungan baru untuk ngertiin “kebiasaan-kebiasaan” kita, sebisa mungkin kita yang harus bisa ngertiin lingkungan baru supaya kita nggak di-cap jelek ama mereka. Kalo setelahnya kita mau “Be Your Self” ya itu wajar karena nggak mungkin kan kita harus jaim terus dan aku yakin kalo udah kaya gitu pasti orang lain bakalan lebih bisa ngertiin “kebiasaan-kebiasaan” kita kok… Dari semua uraian itu, yang dapat disimpulkan adalah kita harus jadi diri sendiri sekaligus kita juga harus bisa nempatin diri dimanapun kita berada… Itu aja intinya…
My 1st Blog
Anda Saat Ini Adalah Akumulasi Dari Anda Sebelumnya
AbOut mE

OKVINA NUR ALVITA...., mungkin terdengar biasa aja bagi yang baru pertama mendengar, tapi..... menurut saya ini adalah sebuah nama yang sangat bagus pemberian kedua orang tua saya, tepatnya pada tanggal 12 Oktober 1986. Saat ini saya adalah seorang mahasiswi pada Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), Fakultas Ekologi Manusia (FEMA), Institut Pertanian Bogor (IPB).
Saya orangnya... COMPLICATED!!
Pengen tau lebih banyak tentang saya? visit www.friendster.com/okvina

Jawa Timur, tepatnya kota Jember adalah tempat dimana untuk pertama kalinya saya dapat merasakan indahnya dunia ini. Saya lahir di provinsi Jawa Timur yang notabene sebagian besar penduduknya adalah orang dari suku Jawa, dan kebetulan baik ayah maupun ibu saya juga orang Jawa, jadi secara otomatis saya berasal dari suku Jawa.
Sebagai seorang yang berasal dari suku Jawa, maka secara langsung maupun tidak langsung beberapa perilaku maupun sikap hidup saya mencerminkan beberapa nilai yang terkandung dalam adat Jawa. Sampai ada yang pernah beri komentar pada saya kalau “Vina tuh Jawa banget sih…”. Memang dalam kehidupan sehari-hari saya sering mempraktekkan nilai-nilai budaya Jawa yang ditanamkan oleh keluarga pada saya. Misalnya seperti: duduk harus sopan, bicara harus lembut, tidak boleh seenaknya sendiri dalam berperilaku, dan masih banyak lagi. Itulah saya dari segi nurture yang membentuk kepribadian saya.
Banyak juga yang bilang “Vina tuh cewek banget sih…”. Saya memang dari kecil ingin menjadi seorang wanita yang sesungguh-sungguhnya wanita. Karena itulah, dalam hal-hal tertentu saya ingin semua perilaku saya benar-benar mencerminkan bagaimana seorang wanita seharusnya. Mulai dari pakaian, saya suka sekali pakai rok dan saya juga orang yang modis. Sejak SMA kelas 2 saya sudah tidak pernah pakai sepatu kets lagi (kecuali saat olah raga) dan saya juga sudah jarang sekali pakai tas punggung atau ransel. Saya benar-benar berpenampilan yang feminin. Tapi saya sadar, itu saja tidak cukup untuk jadi seorang wanita yang sesungguhnya. Saya mulai membekali diri saya dengan hal-hal yang berkaitan dengan bagaimana seharusnya seorang wanita berperilaku. Saya selalu menjaga cara berjalan, duduk, berkomunikasi dengan orang lain, dan juga belajar untuk mendengarkan orang lain. Selain hal tersebut diatas saya juga sangat menyadari bahwa jiwa saya benar-benar didominasi oleh jiwa seorang wanita. Saya seorang yang sangat perfectionist, saya seorang yang lembut, saya perhatian dengan orang lain, pendengar yang baik, peka, senang bermain dengan anak kecil, suka memasak, suka bunga, sangat memperhatikan perasaan orang lain dan saya juga manja. Saya juga seorang yang sangat bertanggung jawab karena saya termasuk dalam kategori orang korelis. Namun dibalik semua itu, saya adalah seorang yang berego tinggi dan cuek. Itu semua menurut saya, kalo menurut orang lain saya tidak tahu, dan memang saya tidak pernah memusingkan apa yang orang lain katakan tentang saya karena menurut saya (selama saya tidak melakukan hal yang diluar norma dan nilai yang ada), kalau saya terlalu memusingkan apa kata orang dan saya selalu ikut pada apa yang dikatakan orang pada saya, maka saya tidak akan bisa jadi diri sendiri dan tidak akan pernah menemukan jati diri saya yang sebenarnya.
Pernikahan adalah sesuatu yang sangat sakral menurut saya. Ikatan yang terjalin adalah untuk sekali seumur hidup. Oleh karena itu, saya tidak mau sembarangan dalam memilih calon ayah untuk anak-anak saya nanti. Yang pasti saya ingin seorang laki-laki yang se-iman dan bisa jadi imam saya. Itu adalah salah satu kriteria yang tidak dapat di ganggu gugat. Saya ingin pasangan hidup yang se-tujuan dengan saya dalam memandang hidup, keluarga yang akan dibentuk nantinya, dan juga tentang anak-anak kami nanti. Saya ingin pasangan hidup yang tahu bagaimana caranya memperlakukan wanita dengan baik. Saya ingin pasangan hidup yang sama-sama saling mencintai. Calon pendamping hidup saya nanti juga harus sudah punya pekerjaan yang mantap. Dan satu lagi yang paling penting adalah, karena pernikahan itu bukan hanya untuk 2 individu tapi 2 keluarga, maka saya ingin pasangan saya bisa diterima oleh keluarga saya dan saya juga diterima di keluarganya.
Sebagai seorang wanita dan ibu nantinya, saya ingin semua yang terbaik untuk anak saya. Saya rela melepaskan semua yang sudah saya capai (seperti karier dan jabatan misalnya), kalau anak saya membutuhkan saya. Satu hal yang pasti, saya tidak akan bekerja saat hamil tua (mulai memasuki usia kehamilan 7 bulan) hingga anak saya masuk sekolah. Saya benar-benar tidak ingin melewatkan masa-masa kritis ataupun the golden age anak saya. Saya ingin mencurahkan semua yang saya punya untuk anak saya. Saya akan mengasuh anak saya secara demokratis dengan menanamkan prinsip-prinsip good character pada anak saya. Saya tidak hanya ingin mencerdaskan anak saya secara kognisi, namun saya ingin menggali semua potensi yang ada pada anak saya nanti. Saya baru ingin bekerja kembali saat anak saya sudah masuk usia sekolah atau prasekolah. Dan pekerjaannya pun harus setengah hari (dosen, guru atau konsultan misalnya), jadi saat anak saya pulang ke rumah setelah sekolah, saya juga ada di rumah. Saya benar-benar hanya menginginkan yang terbaik untuk anak saya dan saya tidak ingin anak-anak saya merasakan hal yang sudah pernah saya rasakan.
Namun, dibalik semua itu saya adalah seorang yang memiliki banyak impian dalam hidup. Semua impian saya itu saya jadikan sebagai penyemangat agar saya selalu menjalani hidup ini dengan penuh rasa optimis.
Kata-kata yang selalu saya pegang dalam menjalani hidup ini adalah lakukan yang terbaik untuk diri sendiri dan semua orang dan juga harus dengan ikhlas serta setulus hati.